Pengamat: Kota Jambi Butuh Tata Kelola dan Staf Terbaik

BETARA.ID, Kota Jambi – Kota Jambi dinilai belum memiliki fokus menghadapi tantangan besar untuk mencapai status metropolitan. Sebuah Kota metropolitan membutuhkan pengelolaan organisasi yang bagus dan tenaga kerja terbaik agar tidak terlempar dari orbit jaringan perekonomian nasional dan global.

“Mau menjadi metropolitan, Kota Jambi membutuhkan organisasi pengelola kota  yang memiliki visi yang jelas, inovatif dan pro-aktif dalam perencanaan untuk mengantisipasi perubahan di masa depan,” kata Pengamat Ekonomi Perkotaan, Dr. Noviardi Ferzi pengamat Ekonomi Perkotaan (7/4/2022).

Mau menjadi Kota Metropolis, Kota Jambi harus menjadi bagian dari Network for Urban Development global atau jaringan pembangunan kota dunia, bukan sebatas upaya membangun citra diri pengelola kota.

” Visi ini seharusnya dilakukan secara serius dilakukan pemimpin kota, bagaimana menjadikan Jambi dari jaringan pembangunan perkotaan global. Lepas dari keterbatasan dampak APBD yang makin tergerus oleh belanja rutin perkotaan,” ungkapnya.

Apalagi menurut Noviardi, proses urbanisasi di Kota Jambi telah meningkat dengan cepat. Lebih dari separuh penduduk Kota Jambi bermukim di kawasan-kawasan urban. Dalam satu dua warsa ke depan kota Jambi, Populasi penduduk diperkirakan akan terkonsentrasi di daerah pinggiran yang berkembang.

Sampai hari ini terutama kawasan Urban Jambi, pemerintah kota tidak memiliki skema dalam mengimbangi kecepatan urbanisasi.

“Kota Jambi bisa terjebak dalam proses globalisasi yang terjadi. Penurunan perdagangan (trade barrier) antar kelas masyarakat melahirkan ketimpangan, ditambah ketiaadaan pola transportasi massal, membuat metropolitan hanya sebuah kata tanpa makna yang terangkum dalam sebuah perencanaan,” imbuhnya.

Satu fakta yang harus disadari oleh pemimpin Kota Jambi adalah globalisasi telah membuat kota-kota dan orang-orang makin terkait. Kota-kota memegang peranan kunci dalam sistem keuangan, produksi, pelayanan, transportasi global.

Beberapa kota memperoleh manfaat yang besar dari globalisasi karena telah menyiapkan diri supaya dapat memegang peranan yang efektif dalam perekonomian global. Tetapi banyak kota juga yang termarjinalisasi, jangan sampai Kota Jambi justru termajinalisasi secara ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Untuk itu, agar kota Jambi dapat berkembang secara berkelanjutan. “Kota Jambi harus memiliki organisasi yang kuat. Mereka harus dijalankan orang-orang terbaik. Jangan segelintir oligarki yang mendesain kemakmuran sendiri,” ujar Noviardi.

Tantangan utama dalam pembangunan Kota Jambi saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan proses liberalisasi perekonomian dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Jangan liberalisasi melahirkan ketimpangan sosial masyarakat, dibutuhkan rekayasa baru dalam berbagai hal yang terkait dengan pelayanan publik. Sebab, perkembangan yang cepat dari urbanisasi menimbulkan masalah baru berupa kemiskinan, disparitas dan kecumburan sosial.

Hal-hal tersebut pada akhirnya sering mengakibatkan ketidakstabilan sosial. Untuk menghadapi ini memang dibutuhkan profesional yang mampu mengembangkan wilayah-wilayah urban, tanpa mengakibatkan disparitas sosial.

Pengelolaan kota yang profesional akan merangsang bisnis, sumber daya manusia yang mengelola kota juga harus professional. “Karena mereka yang memegang policy direction Kota Jambi, harus sadar kearah mana Kota Jambi akan dikembangkan.

” Jangan pembangunan asal menjiplak pembangunan kota lain, karena setiap kota memiliki masalah dan kondisi spesifik yang berbeda. Jadi tidak bisa dibanding-bandingkan,” jelas analis Big Data Ekonomi tersebut.

Karena  ke depan, dikatakan Noviardi pembangunan kota Jambi harus terintegrasi perkotaan seperti Jambi, Mendalo, Sei Duren dan Pijoan. Sehingga kota Jambi tidak boleh berjalan dengan perencanaannya sendiri, terpisah dari perencanaan pembangunan perkotaan secara nasional dan regional. (Fey)

Komentar