Oleh: Moch Idris
Hari ini, tepat 21 April 2026, saat aroma melati Hari Kartini menyeruak di setiap sudut instansi, memori kolektif kita tentang emansipasi perempuan seringkali terjebak pada simbolisme kebaya dan seremoni.
Namun, di Kota Jambi, bagi mata jurnalis yang setiap hari menyaksikan denyut aktivitas pemerintahan, sosok Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, menyuguhkan narasi emansipasi yang jauh lebih konkret dan bertenaga.
Ia tidak sekadar berdiri sebagai bayang-bayang di belakang suaminya, Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, MKM, melainkan bergerak sebagai entitas yang mandiri, produktif, dan penuh empati.
Kita melihat seorang perempuan yang sanggup melipat jarak antara tuntutan profesional sebagai dokter spesialis kandungan dan amanah jabatan sebagai Ibu Wali Kota Jambi, Ketua TP-PKK, hingga Bunda PAUD.
Ketajaman naluri jurnalis kami menangkap sebuah fenomena menarik saat mengikuti rangkaian kegiatan dinas pasangan pemimpin Kota Jambi ini.
Seringkali, di tengah sebuah acara pemerintahan yang sedang berlangsung hangat, Nadiyah harus berpamitan lebih awal. Tidak ada gurat keangkuhan di sana, melainkan sebuah tanggung jawab yang jauh lebih mendesak: ada nyawa yang sedang menanti di meja operasi.
Transisi ini sungguh luar biasa; dalam hitungan menit, ia menanggalkan atribut organisasi kepemimpinan dan segera mengenakan jubah bedah steril di rumah sakit.
Ia bergerak cepat menuju RSIA Annisa atau fasilitas medis lainnya, menghadapi situasi hidup dan mati pasien yang membutuhkannya. Hebatnya, meski jadwal operasinya kerap berlangsung hingga larut malam atau dilakukan di sela-sela padatnya agenda kunjungan lapangan, wajahnya jarang menampakkan rasa lelah yang berlebihan. Ia tetap menyapa pasien dengan kelembutan yang sama saat ia menyapa warga di kelurahan.
Dalam kesehariannya, Nadiyah mencerminkan sosok Kartini yang tidak abai terhadap hal-hal kecil. Kita sering menyaksikan bagaimana ia menunjukkan rasa cinta yang tulus terhadap anak-anak usia dini melalui perannya sebagai Bunda PAUD.
Ia tidak segan berjongkok, menyentuh pundak anak-anak, dan mendengarkan aspirasi jujur mereka dengan binar mata yang hangat. Kepedulian ini bukan sekadar polesan kamera, karena ia tahu betul bahwa pondasi masa depan Jambi terletak pada kualitas tumbuh kembang anak-anak hari ini.
Perhatiannya meluas hingga ke kelompok lansia dan ibu hamil, sebuah segmen masyarakat yang sangat ia pahami secara medis maupun sosiologis.
Sebagai seorang Sp.OG, ia membawa perspektif klinis ke dalam kebijakan publik, memastikan bahwa program kesehatan di Kota Jambi bukan hanya sekadar angka di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan dasar kesehatan reproduksi dan keselamatan ibu melahirkan.
Sepanjang perjalanan kariernya, Nadiyah telah menorehkan jejak prestasi substansial. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua TP-PKK, organisasi ini bertransformasi menjadi mesin penggerak sosial yang sangat efektif, terutama dalam menekan angka stunting melalui gerakan terpadu di tingkat Posyandu.
Ia juga gigih mengawal program literasi keluarga dan pemberdayaan ekonomi perempuan di tingkat akar rumput, yang secara langsung memperkuat ketahanan keluarga di Kota Jambi.
Keberhasilannya meraih gelar Doktor di bidang kedokteran juga menjadi bukti nyata bahwa kesibukan sebagai istri pejabat tidak menghalangi langkahnya untuk meraih pencapaian akademik tertinggi.
Hal ini mengirimkan pesan kuat kepada seluruh perempuan di Jambi bahwa pendidikan adalah senjata utama emansipasi, persis seperti yang dicita-citakan Kartini seabad silam.
Dinamika hidup Nadiyah adalah sebuah simfoni tentang keseimbangan. Ia mengelola organisasi besar dengan tangan dingin, namun tetap mampu menjaga sisi kemanusiaannya sebagai seorang penyembuh di dunia medis.
Kita melihatnya sebagai figur yang tidak terjebak pada hirarki, melainkan lebih mengedepankan kolaborasi. Di matanya, semua warga, baik itu balita di PAUD maupun lansia di panti wreda, adalah subjek yang harus dilayani dengan penuh kehormatan. Ia membawa gaya kepemimpinan yang inklusif, di mana setiap kebijakan yang ia dorong selalu memiliki dimensi kemanusiaan yang kental. Ia membuktikan bahwa otoritas yang dijalankan dengan hati akan menghasilkan dampak yang jauh lebih permanen bagi masyarakat.
Sebagai jurnalis yang menjaga integritas dan kode etik, kami melihat konsistensi adalah kekuatan utama Nadiyah. Ia tidak sedang melakukan pencitraan musiman, karena dedikasinya sebagai dokter telah ia jalani jauh sebelum suaminya menjadi orang nomor satu di Kota Jambi. Ia tetap menjadi pribadi yang sama; pribadi yang tenang saat menghadapi kegawatdaruratan medis dan pribadi yang solutif saat menghadapi kompleksitas persoalan sosial di lapangan.
Kejujuran sikap inilah yang membuat narasinya terasa begitu hidup dan menginspirasi banyak pihak, terutama kaum perempuan di Kota Jambi yang mendambakan sosok teladan dalam membagi peran antara keluarga, karier, dan pengabdian sosial.
Refleksi atas sosok Nadiyah pada Hari Kartini ini membawa kita pada sebuah kesimpulan penting: bahwa perjuangan perempuan hari ini adalah tentang kontribusi tanpa batas. Ia tidak harus memilih antara menjadi ibu, dokter, atau pemimpin organisasi, karena ia mampu menjalankan ketiganya dengan porsi yang adil.
Kehadirannya di samping Maulana bukan sekadar pelengkap protokoler, tetapi sebagai mitra strategis yang mengisi ruang-ruang kosong pembangunan yang mungkin terlewatkan oleh birokrasi formal.
Ia memberikan sentuhan feminin yang kuat dalam kebijakan publik, memastikan bahwa sisi kasih sayang dan perlindungan terhadap kaum lemah tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Jambi.
Pada akhirnya, apa yang ditorehkan Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, adalah sebuah warisan tentang ketangguhan. Ia mengajarkan kita bahwa lelah adalah hal yang manusiawi, namun pengabdian adalah panggilan yang suci.
Melalui derap langkahnya yang ringan namun pasti, ia terus menenun harapan bagi warga Kota Jambi. Ia adalah representasi Kartini masa kini yang tidak hanya bicara tentang hak, tetapi membuktikannya melalui kerja nyata di meja operasi dan di tengah-tengah masyarakat.
Di balik kelembutannya, tersimpan kekuatan besar untuk membawa perubahan positif, menjadikan dirinya sosok yang tidak hanya dicintai oleh keluarganya, tetapi juga dihormati oleh profesinya dan dibanggakan oleh kotanya.
Nadiyah adalah bukti bahwa perempuan Jambi mampu berdiri tegak di tengah derasnya arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri dan ketulusan hatinya dalam melayani sesama. (*)
*) Penulis adalah Jurnalis Jambi








