BETARA.ID, BATANG HARI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Jambi, setelah ratusan hektare kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Thaha Saifuddin (STS) di Kabupaten Batang Hari ludes terbakar, hingga Selasa (8/9/2026).
Merespons situasi darurat ini, Gubernur Jambi Al Haris bersama Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin langsung bergerak cepat memimpin rapat monitoring dan evaluasi penanganan karhutla.
Pertemuan krusial tersebut digelar di Rumah Dinas Bupati Batang Hari dengan menghadirkan Bupati Batang Hari M Fadhil Arief, unsur Forkopimda, serta kepala OPD terkait.
Al Haris blak-blakan mengungkapkan bahwa proses pemadaman di Tahura menyimpan tantangan pelik.
Selain luasnya cakupan wilayah, petugas di lapangan dihadapkan pada kendala kompleks lantaran sebagian area hutan telah digarap dan ditanami oleh masyarakat.
“Persoalannya sudah kompleks. Di samping lahan kosong yang terbakar, ada juga lahan-lahan yang sudah ditanami masyarakat. Ini tidak mudah kita padamkan,” ujar Al Haris.
Gubernur menegaskan bahwa penanganan harus dilakukan secara komprehensif dengan menggabungkan strategi darat dan udara secara maksimal.
Petugas gabungan terus berjibaku di lapangan, sementara jalur udara dioptimalkan menggunakan teknik water bombing.
“Di samping ada operasi udara, operasi darat. Udara dengan water bombing dan OMC. Darat dengan petugas yang terus bekerja,” tambahnya.
Tak hanya itu, Pemprov Jambi juga memastikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai digeber pada 10 September mendatang.
Langkah intervensi cuaca ini difokuskan langsung ke wilayah-wilayah yang masih terpantau memiliki titik api, seperti Batang Hari, Tanjung Jabung Barat, dan Tebo.
“Kita minta daerah yang selama ini masih ada apinya, fokus nanti OMC di daerah itu. Mungkin Batang Hari, kemudian Tanjab Barat, Tebo yang juga ada api di situ,” kata Al Haris.
Senada dengan gubernur, Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin menyerukan pentingnya gerakan bersama dalam menghadapi ancaman karhutla.
Pihaknya dengan tegas meminta masyarakat agar tidak bersikap apatis dan turut serta aktif membantu pengawasan bersama tim kabupaten dan dukungan penuh dari provinsi.
“Semua pihak harus bergerak bersama-sama, jangan hanya mengandalkan petugas. Masyarakat juga jangan apatis. Tim kabupaten bergerak, provinsi mensupport,” tegas Nyamin.(*/rdi)











