Selamat Jalan Datuk Zulfikar Achmad, Sang Pemimpin Bertopi Koboi yang Mengubah Wajah Bungo

Kenangan Mukhtadi Putranusa

BETARA.ID, JAMBI – Ada pemimpin yang lebih senang duduk di belakang meja. Namun, Zulfikar Achmad justru dikenal sebagai sosok yang tak betah berlama-lama di kantor.

Topi koboi menjadi ciri khasnya. Dengan gaya bicara tegas dan langkah yang kerap membawanya turun langsung ke lapangan, ia ingin melihat sendiri apa yang harus dibangun, apa yang perlu dibenahi, dan apa yang dibutuhkan masyarakat.

Kini, sosok yang pernah memimpin Kabupaten Bungo selama dua periode itu telah berpulang.

Drs. H. Zulfikar Achmad, mantan Bupati Bungo sekaligus anggota DPR RI dari Partai Demokrat, meninggal dunia di Rumah Sakit Premier Jakarta, Rabu (4/11/2026) sore.

Kabar kepergiannya menyebar cepat dan menyisakan duka bagi masyarakat Jambi, terutama warga Kabupaten Bungo.

Bagi sebagian orang, ia adalah mantan kepala daerah dan anggota parlemen. Namun, bagi masyarakat yang pernah merasakan masa kepemimpinannya, Zulfikar merupakan bagian dari perjalanan pembangunan Bungo.

Ia dikenal dengan julukan Bapak Pembangunan Bungo. Sebuah sebutan yang melekat pada sosok yang memimpin daerah itu pada 2001–2006 dan 2006–2011.

Topi Koboi dan Gaya Memimpin yang Tak Betah di Kantor

Ketua SMSI Provinsi Jambi, Mukhtadi Putranusa, termasuk orang yang mengenal sosok Zulfikar Achmad secara langsung.

Kenangan itu bermula ketika Mukhtadi mendirikan Bungo Pos pada 2005. Saat itu, Bungo Pos menjadi koran harian pertama yang berdiri di Kabupaten Bungo.

Dalam pandangan Mukhtadi, Zulfikar merupakan pemimpin yang tegas dan memiliki gaya kepemimpinan khas. Topi koboi yang hampir selalu dikenakan bukan sekadar penampilan, tetapi menjadi bagian dari identitasnya.

“Beliau orangnya tegas. Dengan topi koboi itu, beliau punya ciri khas sendiri. Zulfikar tidak betah di kantor. Beliau sering turun ke lapangan untuk melihat dan mendengar langsung apa yang harus dibangun di Bungo,” kenang Mukhtadi.

Menurutnya, kemajuan Bungo, terutama kawasan ibu kota Muara Bungo, tidak terlepas dari sentuhan kepemimpinan Zulfikar selama dua periode.

Mukhtadi menilai, perubahan wajah Muara Bungo pada masa itu menjadi salah satu jejak yang paling mudah diingat masyarakat.

“Beliaulah yang banyak mengubah Bungo menjadi maju. Terutama Muara Bungo. Saya merasa kehilangan beliau,” ujarnya.

Pertemuan Terakhir di Rumah Makan

Kenangan Mukhtadi bersama Zulfikar ternyata tidak berhenti pada urusan pekerjaan dan pembangunan daerah.

Sekitar dua tahun lalu, keduanya sempat duduk bersama di sebuah rumah makan Bulian. Saat itu, mereka sama-sama hendak menuju Bungo dan kebetulan bertemu di tempat tersebut.

Pertemuan sederhana itu berubah menjadi ruang untuk membuka kembali cerita-cerita lama.

Mereka berbincang tentang masa ketika Zulfikar memimpin Bungo selama dua periode. Berbagai kenangan perjalanan daerah kembali menjadi bahan obrolan.

Tak ada yang menyangka, pertemuan santai tersebut kelak menjadi salah satu kenangan terakhir Mukhtadi bersama sosok yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Bungo.

Kini, obrolan itu tinggal kenangan.

Perjalanan hidup Zulfikar Achmad tidak dimulai dari dunia politik. Sebelum menjadi kepala daerah, ia lebih dahulu membangun pengalaman di sektor usaha, khususnya perusahaan pelayaran.

Ia pernah bekerja sebagai asisten manajer di PT Prodisa Shipping Lines Jakarta pada 1975–1979. Kemudian, ia menjalani pekerjaan di bidang komersial perusahaan pelayaran pada 1982–1986.

Kariernya berlanjut ke sejumlah posisi strategis di perusahaan. Pengalaman tersebut menjadi bekal sebelum akhirnya memasuki pemerintahan daerah.

Pada 2001, Zulfikar dipercaya memimpin Kabupaten Bungo. Ia kembali menjabat untuk periode kedua hingga 2011.

Setelah menuntaskan pengabdiannya sebagai bupati, ia melanjutkan perjalanan politik ke tingkat nasional. Zulfikar terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jambi sejak 2014.

Pada Pemilu 2024, ia kembali memperoleh kepercayaan masyarakat untuk duduk di DPR RI periode 2024–2029 melalui Partai Demokrat. Selama menjalankan tugas di parlemen, ia tercatat sebagai anggota Komisi VIII DPR RI.

Kepergian Zulfikar juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bungo.

Bupati Bungo H. Dedy Putra menyampaikan duka cita atas berpulangnya mantan bupati dua periode tersebut. Ia menyebut Zulfikar sebagai orang tua, guru, sekaligus pendahulu yang memiliki peran dalam perjalanan pembangunan daerah.

“Almarhum bukan hanya sekadar pemimpin, tetapi inspirator dan peletak pondasi penting pembangunan di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun. Karya, gagasan, dan perjuangan beliau akan selalu hidup dan tercatat dalam sejarah Kabupaten Bungo,” ujar Dedy Putra.

DPR RI juga menyampaikan belasungkawa melalui keterangan resminya. Lembaga tersebut mengenang dedikasi dan pengabdian Zulfikar selama menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.

Kini, perjalanan panjang itu telah sampai di penghujungnya. Dari dunia usaha, pemerintahan Kabupaten Bungo, hingga kursi parlemen, Zulfikar meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang.

Bagi Mukhtadi Putranusa, kenangan tentang Zulfikar bukan hanya tentang seorang pejabat yang pernah memimpin daerah. Ia mengingat seorang pemimpin bertopi koboi yang lebih suka turun ke lapangan daripada berdiam di balik meja.

Topi koboi itu mungkin tak lagi terlihat menyusuri jalan-jalan Muara Bungo. Suara tegasnya pun tak lagi terdengar dalam percakapan pembangunan daerah.

Namun, bagi orang-orang yang pernah mengenalnya, sosok Datuk Zulfikar Achmad akan tetap hidup dalam cerita dan kenangan.

Selamat jalan, Datuk. (rdi)

News Feed