BETARA.ID, Jambi – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama APP Group, melalui unit usahanya PT Wira Karya Sakti (WKS), mengajak generasi muda mengenal lebih dekat pengelolaan ekosistem gambut berkelanjutan melalui kegiatan KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda).
Kegiatan ini dilaksanakan di area operasional PT WKS, Distrik VII dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Internasional.
KELANA merupakan program inisiasi KLH/BPLH yang dirancang sebagai platform edukasi lingkungan bagi generasi muda, dengan melibatkan dunia usaha sebagai mitra kolaboratif.
Di Jambi, PT WKS berperan sebagai tuan rumah kegiatan, sekaligus membuka akses pembelajaran lapangan bagi peserta.
Puluhan pelajar SMA dari beberapa daerah di Indonesia mengikuti rangkaian diskusi interaktif dan field trip yang berfokus pada perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, mulai dari aspek hidrologi, pencegahan kebakaran, hingga pemanfaatan ekonomi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH/BPLH, Edy Nugroho Santoso menegaskan, bahwa KELANA menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas edukasi ekosistem gambut kepada generasi muda melalui pendekatan kolaboratif.
“Pada peringatan Hari Lahan Basah Sedunia ini, kami bekerja sama dengan PT WKS untuk memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai ekosistem gambut. Gambut membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan karena memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi ekonomi. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa memelihara gambut dapat berjalan seiring dengan manfaat ekonomi,” ujar Edy.
Ia menambahkan, selain gambut, peserta juga diperkenalkan pada keterkaitan fungsi ekosistem mangrove sebagai bagian dari lahan basah, terutama dalam konteks keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan fungsi hidrologis.
“Baik gambut maupun mangrove memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim, meskipun berada pada lanskap yang berbeda,” jelasnya.
Pemilihan lokasi kegiatan di Distrik VII PT WKS, lanjut Edy, didasarkan pada praktik pengelolaan hidrologis gambut yang telah berjalan dengan baik, serta adanya pemberdayaan masyarakat di sekitar area konsesi, yang sejalan dengan arah kebijakan KLH dalam mendorong kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.
Sementara itu, Deputy Director of Corporate Strategic & Relations APP Group, Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa keterlibatan APP Group dalam KELANA merupakan bentuk dukungan terhadap program edukasi lingkungan yang diinisiasi pemerintah.
“Melalui program KELANA, kami mendukung upaya KLH untuk mengajak generasi muda melihat langsung bagaimana pengelolaan lahan gambut dilakukan secara bertanggung jawab. Anak-anak muda diperkenalkan pada metode pengelolaan gambut di area budidaya yang tetap memberikan manfaat ekonomi, sekaligus menjaga fungsi lingkungannya,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, pengalaman langsung di lapangan diharapkan dapat membangun pemahaman yang utuh dan mendorong peserta untuk menyebarkan narasi positif mengenai pengelolaan gambut yang benar dan berkelanjutan.
Princessa Erilca Ratu, salah satu peserta KELANA dari SMA Negeri 1 Manado, mengaku mendapatkan pembelajaran yang berkesan karena dapat melihat dan merasakan langsung pemanfaatan lahan basah.
“Kami sangat senang karena bisa merasakan langsung madu dari lahan basah dan belajar bagaimana ekosistem gambut dikelola hingga memiliki nilai ekonomi. Dari kegiatan ini, saya jadi semakin sadar bahwa lahan basah itu dekat dengan kehidupan kita dan perlu dijaga bersama demi masa depan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Apresiasi serupa disampaikan Sophie Kirana, Puteri Indonesia Lingkungan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai KELANA memberikan pemahaman yang komprehensif bagi generasi muda mengenai pentingnya ekosistem gambut.
“Kami belajar bahwa gambut bukan sekadar lahan kosong, tetapi memiliki peran besar bagi lingkungan. Harapannya, semakin banyak anak muda yang sadar dan ikut menjaga kelestarian gambut sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan KELANA di PT WKS meliputi pemaparan pengelolaan tata air gambut, peninjauan pembangunan sekat kanal, praktik pengeboran gambut, pengenalan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (MPA), pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) madu, kegiatan penanaman, serta kunjungan ke situation room untuk memahami sistem pemantauan dan kesiapsiagaan di lapangan. (rdi)







