BETARA.ID, JAMBI – ​Upaya penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi menghadapi jalan terjal.
Rencana pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terpaksa tertunda total menyusul ketiadaan awan potensial di langit Jambi, yang diprediksi bertahan hingga pertengahan Agustus mendatang.
​Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa tim di lapangan terus memantau pergerakan langit setiap hari. Namun, faktor alam belum memberikan dukungan maksimal bagi pelaksanaan operasi hujan buatan tersebut.
​”Tim setiap hari mencari awan potensial untuk memicu hujan. Kendalanya, bintik awan belum ditemukan, sehingga operasi belum bisa dieksekusi,” ujar Al Haris usai menggelar rapat virtual bersama pemerintah pusat di rumah dinasnya, Senin (10/8/2026).
​Pemerintah Provinsi Jambi meningkatkan kewaspadaan menyikapi ancaman krisis lingkungan jika cuaca kering terus mendominasi. Kemarau panjang tanpa curah hujan ini memicu peningkatan debu di udara serta mengancam ketersediaan sumber air bersih bagi warga.
​Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi memetakan puncak musim kemarau yang melanda wilayahnya sepanjang Agustus, September, hingga Oktober.
Berdasarkan koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi awan hujan saat ini hanya terpantau di luar wilayah Jambi.
​”Hasil koordinasi pagi tadi dengan BMKG menunjukkan bintik awan hujan hanya terkonsentrasi di Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah. Wilayah Jambi nihil hingga 22 Agustus mendatang,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah.
​Padahal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiagakan satu unit pesawat jenis Cessna khusus untuk mendukung patroli sekaligus eksekusi TMC secara fleksibel, baik siang maupun malam hari.
​Di sisi lain, luas lahan yang terbakar di berbagai wilayah Jambi kini telah menembus angka 300 hektare.
Tim Satgas Karhutla terus berjibaku melakukan pendinginan di sejumlah titik api utama, termasuk kawasan Rantau Rasau di Kabupaten Tanjung Jabung Timur serta Muaro Jambi yang mencatat luas terbakar lebih dari 50 hektare.
​Situasi kian menantang dengan pergerakan angin dari Tenggara ke Utara yang turut membawa kabut asap kiriman dari provinsi tetangga.
Guna menekan eskalasi bencana, Satgas Karhutla mengandalkan dukungan armada pusat yang mencakup empat unit helikopter untuk patroli dan water bombing, serta pesawat Cessna.
​”Armada bantuan pusat harus berbagi wilayah karena dampak El Nino meluas secara nasional. Sebagian helikopter sempat bergeser sementara ke Jawa Timur dan Bekasi untuk penanganan darurat di lokasi lain,” pungkasnya. (*/)











