BETARA.ID, JAMBI — Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Jambi bergerak cepat menghadapi lonjakan titik panas.
Pemerintah Provinsi Jambi resmi menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) alias hujan buatan demi meredam ancaman karhutla yang kian meluas.
Langkah taktis ini diambil menyusul peningkatan drastis jumlah titik panas yang terpantau di berbagai wilayah.
Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa kondisi karhutla serta kualitas udara saat ini telah menjadi atensi dan perhatian serius pemerintah daerah.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru di lapangan, radar satelit mendeteksi sedikitnya 500 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten. Dari angka tersebut, wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur menyumbang sebaran terbanyak.
”Titik panas hari ini masih sekitar 500-an. Yang terbanyak di wilayah Tanjung Jabung Timur,” ungkap Al Haris usai memimpin rapat evaluasi penanganan karhutla di Posko Bencana Provinsi Jambi, Rabu (30/9/2026).
Selain memantau ratusan titik panas, tim Satgas di lapangan juga berjibaku menjinakkan sejumlah titik api aktif. Saat ini, tercatat ada tujuh titik api yang masih berada dalam proses pemadaman intensif serta tahap pendinginan oleh tim gabungan.
Kabar baiknya, kondisi atmosfer di langit Jambi mulai menunjukkan tanda-tanda positif.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinamika awan mulai mendukung pelaksanaan penyemaian awan.
Sejumlah benih awan terpantau mulai tersedia dan siap dimaksimalkan untuk memicu curah hujan buatan di wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.
”Rencana kami tanggal 1 Oktober kita akan OMC sampai tanggal 4 Oktober,” beber Al Haris memastikan jadwal operasi tersebut.
Tak hanya mengandalkan hujan buatan dari langit, Satgas Karhutla juga menyiagakan armada udara berupa helikopter water bombing.
Operasi pemadaman dari udara ini akan langsung digenjot begitu jarak pandang di lokasi kebakaran sudah memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Di darat, Al Haris memastikan ratusan personel gabungan tetap siaga penuh di titik-titik rawan. Tim terus menggencarkan penyiraman dan pendinginan agar si jago merah tidak kembali membesar dan meluas.
”Alatnya banyak sudah. Lebih dari 15, yang di sana saja 12, ditambah tiga,” tambahnya.
Meski demikian, petugas di lapangan masih menghadapi tantangan berat. Pemadaman di kawasan Taman Nasional Berbak-Sembilang terkendala medan ekstrem berupa hutan belantara yang sulit dijangkau, ditambah pekatnya kabut asap yang membatasi ruang gerak helikopter water bombing. (*/rdi)








